PLN Membuat Super SUN, Inovasi Listrik Hijau untuk Daerah 3T

PT PLN (Persero) berinovasi dengan membuat Sorong Ultimate for Electrifying – Surya Untuk Negeri (SuperSUN), untuk melistriki desa di wilayah terdepan, terluar dan tertinggal (3T). Inovasi ini dibuat dalam rangka mendukung pemerintah dalam mengusung isu strategis G20 soal transisi energi bersih yang berkelanjutan.

Inovasi yang diciptakan insan PLN ini merupakan terobosan di tengah kondisi masih ada 346 desa gelap gulita dan 4.061 desa pra-elektrifikasi. SuperSun menjadi solusi atas tantangan geografis lokasi pedesaan di kawasan 3T yang sulit dilayani.

Menteri Energi Sumber Daya Mineral, Arifin Tasrif, saat menghadiri Energy Transtions Youth Forum mengatakan, dalam transisi energi butuh keterlibatan semua pihak, terlebih lagi generasi muda.

“Dengan semangat G20, kami berharap semakin banyak inisiasi pemuda tangguh mendukung transisi energi bersih Indonesia, tidak hanya pada degree nasional tapi global,” kata Arifin, Jumat (27/3) .

Arifin mengapresiasi PLN dalam mendukung generasi muda terlibat aktif dalam pengembangan Energi Baru dan Terbarukan melalui Inovasi SuperSUN PLN. “Saya menyampaikan apresiasi setinggi tingginya kepada PLN atas dukungannya terhadap anak muda,” pungkasnya.

Executive Vice President Technology & Engineering PLN Zainal Arifin mengatakan, SuperSUN merupakan application untuk melistriki wilayah 3T yang tak lagi harus bergantung pada BBM.

Melalui application SuperSUN, PLN mampu melistriki wilayah 3T dengan energi EBT yang lebih murah dan bisa langsung dipasang tanpa investasi yang besar.

Inovasi ini bermula dari pilot mission mewujudkan Papua terang, SuperSUN kemudian mampu mendukung percepatan rasio elektrifikasi (RE) dan rasio desa berlistrik (RDB) a hundred persen demi mewujudkan energi berkeadilan. Program ini juga bertujuan untuk melistriki daerah 3T dengan penggunaan energi baru terbarukan dari tenaga surya.

Terobosan insan PLN di Sorong bermula dari kondisi Kampung Yarweser, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, yang gelap gulita dan tertinggal karena tidak adanya penerangan pada malam hari.

Sebagian rumah memiliki genset pribadi dan mengeluarkan biaya Rp 50 ribu sampai dengan Rp a hundred ribu untuk penerangan selama 6 – 12 jam saja.

“Karyawan milenial PLN UP3 Sorong, UIW Papua dan Papua Barat melakukan riset dan percobaan sehingga menghasilkan suatu inovasi, yaitu melistriki kampung-kampung yang jauh dari pusat pembangkit atau di daerah 3T,” ujar Zainal.

SuperSUN seperti genset yang menggunakan bahan bakar energi matahari. Karena itu, tidak ada emisi dari fuel hasil pembakaran yang dikeluarkan SuperSun.

Alat ini dapat dioperasikan secara hybrid dari energi terbarukan dan menyala 24 jam serta anti blackout. Teknologi ini dilengkapi dengan garage baterai lithium, alat ini juga bisa digunakan untuk mengisi daya motor listrik dan memenuhi kebutuhan listrik rumah tangga seperti kompor induksi atau alat elektronik lain.

Zainal menceritakan, implementasi SuperSUN cukup sederhana dan sudah tersambung dengan gawai pelanggan sehingga dimonitoring secara on-line dan realtime mulai dari jaringan 2G (EDGE).

“SuperSUN juga tidak membutuhkan operator dan lahan yang luas, biaya pengoperasiannya dan pemeliharaan juga lebih rendah,” pungkas Zainal. sumber. kumparan.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.