Efek Ghozali: Bagaimana Cara Menjual NFT dan Apakah Transaksinya Aman?

nama Sultan Gustaf Al Ghozali asal Semarang menjadi viral setelah dilaporkan ia mendapat Rp 1,5 miliar dari penjualan foto selfie-nya di internet. Sejak tahun 2017 ia menjual koleksi fotonya yang dinamakan ‘Ghozali Everyday’ secara virtual dalam bentuk ‘non-fungible token’ atau NFT. “Hari ini terjual lebih dari 230+ dan sampai sekarang saya tidak mengerti mengapa kalian mau membeli #NFT foto saya !!!,” unggah Ghozali di akun Twitter miliknya, 11 Januari lalu. “Tapi saya berterima kasih kepada kalian semua karena usaha saya selama lima tahun terbayar.”

Hingga Rabu (19/1/2022) tercatat ada 933 merchandise yang ia jual di platform OpenSea dengan quantity penjualan mencapai lebih dari 370 dan lebih dari 500 kepemilikan. Salah satu fotonya, yakni Ghozali_Ghozalu #921 dijual dengan harga 8.4 ETH atau setara 26,588.94 greenback (Rp 381 juta). Apa itu NFT? NFT merupakan singkatan dari ‘non-fungible token’ dalam teknologi blockchain, yang memiliki information yang terenkripsi (kode) dengan baik dan tidak bisa “dimodifikasi sembarangan”. NFT sangat erat digunakan untuk memberikan ‘signature’ atau tanda berupa kode unik bagi karya Bentuk NFT adalah semua karya digital, berupa foto, video, komik, hingga puisi

Minat NFT bertambah sejak ‘Ghozali effect’ Sejak Ghozali ramai diberitakan, halaman situs ‘marketplace’ NFT bernama OpenSea dibanjiri foto selfie, makanan, bayi, dan KTP dari warga Indonesia. Kementerian Komunikasi dan Informasi RI bahkan mengeluarkan peringatan agar transaksi NFT tidak melanggar peraturan, termasuk terkait information pribadi dan hak cipta. Budi Santosa, pendiri Indonesian NFT Community (IDNFT) mengaku sejak ada ‘Ghozali effect’ akun Instagram komunitasnya kebanjiran DM atau pesan yang dikirim langsung oleh pengikutnya. Ia juga mengatakan, pengikut komunitasnya di Instagram telah bertambah hingga “beberapa ribu” orang. “Di 2022 ini adanya ‘Ghozali effect’ benar-benar membuat orang semakin banyak yang tertarik dan penasaran.

“Ghozali effect” tidak hanya menambah jumlah kreator, atau pembuat karya NFT Indonesia, melainkan juga investor atau kolektor, kata Budi. “Banyak yang cerita kalau dia bisa dapat keuntungan sampai dengan 4ETH (sekitar Rp 176 juta) dalam waktu beberapa hari saja dengan Ghozali ini,” ujar Budi. “Jadi mereka beli, terus di-hold, (ketika harganya) sudah tinggi, dijual, dan jadi semakin banyak juga orang yang investasi di NFT ini.” NFT “mengubah hidup” seniman Budi juga adalah seorang pemilik agensi seni mural yang berpusat di Yogyakarta dan sudah ia jalani sejak tahun 2014. Selama pandemi Covid-19, Budi mengaku jika pendapatannya “jatuh”, tapi di awal tahun 2021 lalu ia memutuskan untuk menjual karyanya dalam bentuk NFT.

Budi mengatakan, saat ini penghasilannya sudah mencapai 16.000 greenback atau lebih hampir Rp 230 juta dan ia bagi dengan seniman lain yang berkolaborasi dengannya. “Banyak juga teman-teman Indonesia yang sudah lebih mahal sekali karya-karyanya, satu karya ada yang bisa laku 2, 3 sampai 10 ETH (Rp 90-400 juta),” ujarnya. “Itu benar-benar life altering (mengubah hidup) dan benar ini menjadi solusi atau alternatif ekonomi, karena dari situ saya sudah merasakan sendiri menjadi artist NFT dan laku selama beberapa bulan.” Namun, tidak semua seniman memiliki pengalaman yang sama dengan NFT.

Pentingnya ada regulasi Wisnu Uriawan, peneliti Blockchain di INSA de Lyon, Perancis, mengatakan, sejauh ini ia belum melihat atau menemukan secara element aturan terhadap transaksi NFT di Indonesia. Meski sudah ada imbauan dari Kominfo soal kegiatan transaksi NFT, Wisnu meminta agar Pemerintah Indonesia melakukan “kajian yang cukup cepat” terhadap aspek perkembangan teknologi, Menurutnya fokus ini diperlukan agar dapat mengantisipasi risiko di masyarakat jika ada kasus yang viral di internet, atau melakukan transaksi dalam bentuk pornografi dan konten berbahaya lainnya. “Jadi nanti yang harus kita antisipasi dari sisi regulasinya adalah bagaimana nanti ketika transaksinya mengandung funds laundering dan lain-lain, kan itu juga bahaya.”

Menurutnya ini menjadi salah satu dari banyak hal yang perlu dipersiapkan, sebelum teknologi yang dipakai semakin meluas tanpa terkendali. Di tengah masyarakat yang “masih awam teknologi”, Wisnu juga menekankan pentingnya edukasi mengenai teknologi agar tidak terjadi tradition surprise dan bisa membantu perekonomian yang lebih berkelanjutan. “Kalau kita sementara hanya masyarakat beraktivitas dari sebuah trending topic, kemudian mereka dengan ‘iseng-iseng berhadiah’, keberlanjutan ekonomi atau sustainability-nya kan tidak terlalu stabil,” katanya. “Kita penginnya pertumbuhan ekonomi kita bertahap tapi jelas.”

Jadi, apakah blockchain dan NFT aman?

Wisnu mengatakan, dari sisi keamanan teknologi blockchain tidak memiliki kendala, karena memiliki sistem yang “rapi dan tidak mudah dimodifikasi” dengan mengikuti regulasi dan sistem dari ‘marketplace’ itu sendiri. Namun, ia mengatakan, pertumbuhan marketplace dan konsumen harus beriringan dan memiliki stabilitas yang baik, apalagi ancaman akan selalu ada khususnya pada teknologi yang mudah viral. “Makanya tetap harus ada batasan-batasan tertentu ke depannya, tidak kita batasi secara konkret, tapi regulasinya kita kawal, supaya betul di music yang tepat perkembangannya, baik di NFT, cryptocurrency, blockchain, segala macam,” katanya. Cara menjual NFT: Membuat crypto virtual pockets sesuai dengan foundation marketplace yang digunakan (Ethereum atau Tezos) dan mengisi saldonya Menentukan crypto marketplace atau jenis blockchain, salah satu contoh yang terkenal adalah Open Sea Mendaftarkan diri di NFT marketplace dengan mengisi information dan menghubungkan virtual pockets dengan marketplace tersebut Melakukan proses minting (mengunggah karya ke dalam blockchain) dan record (penjualan yang bisa dengan harga tetap, lelang, dan lain-lain) Menerima pembayaran (uang akan masuk ke dalam virtual pockets dan pembeli akan mendapatkan standing kepemilikan) Sumber: IDNFT

Leave a Reply

Your email address will not be published.